Kisah Nyata Anak Berusia 10 Tahun Jadi Mualaf
.jpg)
Cerita saya menjadi seorang Muslim pada usia sepuluh tahun mungkin tidak biasa. Saya lahir dengan seorang ibu yang Katolik Roma dan seorang ayah yang Baptis. Saya mempunyai seorang kakak yang satu setengah tahun lebih tua. Ketika saya berumur enam minggu, ayah membawa lari saya dan kabur dengan wanita lain. Dia meninggalkan ibu dan kakak saya. Dia menyembunyikan saya dan terlibat dalam narkoba. Saya ingat beberapa tahun pertama saya sendirian dan sangat kelaparan. Saya ingat bagaimana buruknya tabiat saya . Selama beberapa tahun pertama, ibu saya bekerja sebagai bartender sehingga ia bisa menghidupi dirinya dan kakak saya. Setelah beberapa saat salah satu teman ayah mengatakan pada ibu dimana saya berada karena dia takut sesuatu yang buruk akan terjadi. Ibu langsung datang dan menemukan ayah dan teman-temannya sedang menggunakan narkoba. Dia melihat saya yang sedang berlarian terabaikan, jadi dia mengambil saya dan meninggalkan ayah. Saya tidak benar-benar mengenalnya. Waktu itu saya pikir sedang diculik atau apalah, jadi saya melemparkan amarah disetiap kesempatan dan bahkan menjadi semakin marah. Akhirnya ibu bisa membuat saya tersenyum, belajar bagaimana memeluk, dan bahkan mengatakan Aku mencintaimu, segala sesuatu yang belum saya ketahui sebelumnya. Ibu harus lebih banyak menghabiskan waktu di bar untuk membiayai saya dan kakak sehingga kami harus tinggal dengan babysitter. Suatu hari ayah datang ke rumah dan membawa saya kembali ke tempat dia tinggal bersama wanita lain.
Pada akhir tahun itu, ia mencoba menempatkan saya di sekolah tetapi tidak berhasil. Saya melakukan segala sesuatu yang buruk hanya untuk mendapatkan masalah. Sekolah menelepon dan mengatakan saya tidak bisa kembali karena perilaku saya, jadi saya dibuang di depan pintu rumah ibu. Dia senang saya kembali dan membawa saya ke sekolah kakak. Saya pikir saya sudah mulai ditinggalkan lagi, jadi saya mengamuk, memukul guru saya dan anak-anak lain sehingga sekolah memanggil ibu dan mengatakan saya tidak bisa sekolah disana lagi. Saya marah pada semua orang. Saya melakukan hal-hal buruk yang bisa terpikirkan untuk dilakukan. Kali ini ibu membawa saya terbang ke rumah ibunya (nenek saya), di negara bagian lain. Dia baik dan penuh kasih kepada saya, setiap kali saya mengamuk nenek tidak pernah marah tapi ia akan memegang tangan saya berjalan keluar ke tumpukan blok kayu kecil di samping rumah dan menyuruh saya memindahkan tumpukan blok tadi. Pada awalnya saya begitu marah, tetapi lama-lama saya anggap ini permainan sampai akhirnya delapan bulan tinggal dengan nenek saya sudah tidak pernah mengamuk lagi. Saya biasa duduk di pangkuannya mendengarkannya membaca cerita Alkitab dan puisi sampai saya tertidur.
Banyak hal yang saya pelajari dari nenek sampai akhirnya saya harus kembali pulang. Dia mengatakan bahwa saya akan baik-baik saja dan setiap kali saya marah atau sedih atau kesepian saya harus berpikir tentang Tuhan. Dia bilang saya harus selalu ingat bagaimana Tuhan merawat semua orang di dalam Alkitab. Ibu senang dengan perubahan saya yang tidak lagi mengamuk.
Kemudian, sekali lagi karena melihat perubahan saya ayah membawa lari saya. Wanita baru ayah saya begitu kejam. Saya kehilangan banyak berat badan dan saya tidak ingat hal-hal terlalu jelas, tapi saya ingat pacarnya memukul saya, saya juga ingat ayah membanting kepalaku ke meja dapur karena saya tidak menulis cukup cepat. Dia dan teman wanita itu akan mengancam saya dengan meyakinkan bahwa setan akan keluar dari lantai kamar tidur saya dan membawa saya ke neraka jika saya keluar dari tempat tidur saat mereka menggunakan obat. Hal ini berlangsung sampai saya kelas empat. Saya sudah lupa bagaimana nenek mengajarkan saya untuk berdoa dan saya tidak bisa ingat hari-hari indah yang sudah saya habiskan dengan dia, saya bahkan lupa semua pelajaran tetang Tuhan.
Ketika tiba waktunya untuk memulai kelas empat saya menjadi tak terkendali di sekolah, berharap ayah mengirimkanku kembali ke ibu atau nenek. Saya tidak berhenti sampai saya mendapatkan apa yang saya inginkan dan itu berhasil. Aku dikembalikan lagi pada ibu. Ibu terlalu sibuk dan lelah sehingga saya kembali menjadi anak nakal untuk mendapatkan perhatian. Ibu tidak lagi bisa mengatasi saya dalam satu menit karena ayah sudah membawa saya ke dokter dan memberi saya berbagai jenis obat dari Ritalin sampai yang lebih buruk agar saya bisa terkontrol tapi tidak ada yang berhasil. Saya memukuli anak-anak lain, berkelahi, memfitnah, mencuri sesuatu, berbohong, menolak mematuhi guru atau melakukan pekerjaan apapun. Sekolah bagi saya adalah tempat untuk bermain dan melakukan apa saja yang ingin saya lakukan. Aku tahu mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Saya tidak menganggap semua itu keren atau patut untuk dicontoh karena saat itu saya masih 10 tahun.
Sekarang usia saya hampir empat belas, dan berpikir kembali ketika saya sepuluh tahun. Semuanya berakhir ketika saya mulai menelepon rumah anak-anak lain dan mengatakan kalau anaknya hilang. Bisa dibayangkan seberapa besar saat itu masalah yang saya hadapi dan itu hanya membuat saya lebih menggunakan obat-obatan dari dokter. Semua obat membuat saya melihat hal-hal dan mendengar hal-hal yang tidak ada dan membuat marah saya cukup berbahaya. Ketika obat tidak lagi membantu saya mulai terancam untuk dikeluarkan dari keluarga selamanya. Tiba-tiba ibu tak mau lagi berhadapan dengan masalah dan ayah tak ingin saya kembali. Saya tidak tau apa yang akan terjadi pada saya.
Tanpa disangka-sangka, ada seseorang yang menawarkan untuk menolong saya karena mereka tidak memiliki anak dan mereka berjanji tidak akan melukai saya dan menyekolahkan saya di rumah, mereka juga tidak akan memberi saya obat-obatan atau membawa saya ke dokter kecuali saya sakit. Ini kesempatan terakhir saya jadi saya menyetujuinya. Mereka adalah Jumaana dan Waseem suaminya.
Disana sudah tersedia kamar untuk saya dengan berbagai barang-barang yang belum pernah saya dapatkan. Lama-lama obat-obatan mulai hilang dari tubuh saya sehingga saya menjadi cepat lelah dan tidur lebih banyak.
Saya merasa banyak sekali hal-hal yang berbeda disini. Pada waktu-waktu tertentu Jumaana akan meninggalkan ruangan menuju ke kamarnya dan saya akan berpura-pura sedang bekerja. Saya melihat dia memakai syal panjang di atas kepalanya dan karpet kecil dilantai, saya tidak yakin apa yang dia lakukan tapi saya tau dia sedang berdoa dan dia lakukan itu setiap hari. Hingga akhirnya suatu hari saya menanyakannya. Saya merasa berbeda disini karena terasa damai dan tenang berbeda dengan lingkungan dulu yang dikelilingi oleh orang-orang yang mabuk dan obat-obatan terlarang. Saya menjaga sikap saya karena saya takut suatu hari saya akan diusir dan kembali ke lingkungan yang lama.
Semakin hari saya bertanya semakin jauh dan mereka berusaha untuk memberikan jawaban yang terbaik. Suatu hari saya bertanya apa bisa saya ikut berdoa? Dia memperbolehkan dan malah memberi saya sajadah beludru biru baru. Saya mengikuti setiap gerakan walaupun masih belum bisa sampai beberapa minggu akhirnya saya mulai bisa. Saya merasakan ketenangan yang seingat saya belum pernah merasakannya. Suatu hari Jumaana mendatangi kamar saya dan menanyakan apakah ada yang bisa dia bantu karena melihat saya semakin baik. Saat itu saya tidak tau harus bagaimana sampai akhirnya saya memberanikan diri mengatakan “Saya ingin menjadi seorang muslim”.
Dia tersenyum dan bertanya apa tau menjadi muslim itu seperti apa dan saya jawab tidak. Kemudian dia memberi saya buku Children’s book on Moeslim. Hingga suatu malam tanggal 29 Desember 2000 saya mengucapkan 3 x syahadat dan menjadi seorang muslim.
Jumaana dan suaminya selalu mengajari saya di rumah dan memberi kebebasan saya untuk membaca buku apapun. Semakin banyak pertanyaan saya tentang perbedaan agama di dunia dan kenapa tidak semua orang menjadi muslim. Jadi saya mulai mencari dan membaca buku dari perpustakaan kecil sampai perpustakaan besar dan Jumaana pun menawari saya banyak buku dan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya.
Orang tua saya tidak mau saya kembali dan bahkan tidak peduli atau membiayai hidup saya di tahun pertama. Sementara Jumaana dan suaminya sangat peduli dengan apa yang terjadi pada saya. Jadi setelah setahun berlalu mereka mengadopsi saya secara legal sehingga mereka punya hak untuk membuat keputusan tentang sekolahku atau hal-hal lain yang sebelumnya tidak bisa. Saya sangat takut kembali ke rumah lama dengan kebiasaan lama apalagi orang tua saya tidak akan membiarkan saya menjadi seorang muslim.
Saya berdoa setiap hari berharap Allah menolong saya agar saya bisa diadopsi. Saya sangat senang ketika pengadilan memutuskan bahwa adopsi adalah jalan yang terbaik untuk saya. Pengadilan mendapatkan tandatangan orang tua saya dengan mudah bahkan ayah tidak mengecek kebenarannya dulu karena mereka begitu ingin melepaskan saya sebagai keluarga. Saya sangat senang bahkan pengadilan mengijinkan saya mengganti nama, jadi saya pilih nama Waa’li yang berarti seseorang yang kembali untuk berlindung. Saya merasa telah datang pada Jumaani dan Waseem untuk berlindung dan juga saya merasa seperti kembali ke Islam untuk mendapat perlindungan. Karena adanya penangguhan dari orangtua kandung saya sehingga tanggal adopsi diundur jadi bertepatan dengan hari pertama puasa. Saya merasa Allah memberkahi saya selalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar